Perkuliahan filsafat tanggal 19 Mei 2011 jam 15.30-17.10 di Ruang 104 yang lalu, di kelas Pendidikan Matematika Swadana diadakan tanya jawab singkat oleh Bapak Marsigit (dosen). Berikut pertanyaan dan jawabannya yang saya uraikan.
Apa unsur penting untuk membangun pendidikan karakter?
Pengembangan karakter dalam pendidikan matematika dapat dilaksanakan dengan mengembangkan komunikasi material, komunikasi formal, komunikasi normatif, dan komunikasi spiritual.
Tema hantu apakah yang dipakai pada elegi “Forum Tanya Jawab 2: Tema Hantu dan Kematian di kelas RSBI?”
Hantu Casablanca. Mungkin Casablanca dianggap sebagai tema yang kuat untuk menghadirkan suasana ‘ke-hantu-an’ di kelas RSBI tersebut.
Apakah yang diperlukan agar bisa melakukan transformasi dunia?
Ruang dan waktu. Dunia ini terdapat 2 dimensi sekaligus yaitu dimensi ruang dan dimensi waktu. Dengan dimensi ruang saja kita tidak bisa bertransformasi, begitu pula dengan dimensi waktu.
Apakah dua unsur bahasa itu?
Subyek dan predikat. Keduanya saling berkaitan, tidak bisa berdiri sendiri-sendiri. Jika salah satu tidak ada, maka bahasa itu tidak bermakna. Misalnya: Saya belajar. Saya sebagai subyek dan predikatnya adalah belajar. Belajar itu menerangkan keadaan saya sebagai subyek.
Secara subyektif, filsafat adalah?
Secara subyektif, filsafat adalah diriku/pikiranku. Jelas di sini bahwa filsafatku adalah tergantung siapa yang menyebut ‘ku’. Jadi filsafat tiap orang tidaklah sama, karena filsafat masing-masing orang adalah tergantung pada dirinya/pikirannya.
Apa filsafatnya burung berkicau di pagi hari? Inovasi.
Apa filsafatnya jangkrik mengerik di sore hari? Tradisional.
Kapankah kita tidak mampu mendefinisikan filsafat?
Ketika kita berpikir kritis/berfilsafat. Karena saat kita berpikir kritis maka kita akan terus dan terus bertanya, untuk menghindari mitos. Sehingga kita tidak akan mampu mencapai titik di mana kita dapat mendefinisikan filsafat.
Siapakah filsuf yang tidak mampu mengetahui apapun? Socrates.
Apakah gelar yang paling tinggi dalam keilmuan?
Saksi. Bukan gelar/pangkat tertentu yang dapat menjadikan seseorang disebut berilmu. Ada banyak orang yang tidak memiliki gelar/pangkat tetapi mereka cerdas. Dan menurut saya, ilmu bukanlah secara kognitif saja, tapi bisa juga ilmu-ilmu lain seperti ilmu moral, ilmu spiritual, dan sebagainya.
Apakah sifat dasar dari reduksi?
Tajam dan kejam.
Apakah yang menghubungkan antara ada dan tidak ada?
Pikiranku.
Siapa orang paling seksi?
Obama. Karena menurut Pak Marsigit orang yang paling seksi adalah orang yang paling menarik perhatian, paling berpengaruh di jagat raya ini.
Contoh infinite regress?
Debat kusir. Menurut saya, debat kusir merupakan perdebatan yang terus dilakukan, jadi dua atau lebih pihak yang berdebat memegang kuat pendapatnya hingga tak terbatas dan tak pernah berakhir. Sesuai dengan infinite regress yaitu tak pernah selesai.
Apakah unsur untuk membangun dunia?
Aku ditambah aku atau bukan aku. Unsur bukan aku berarti selain aku dan itu mencakup semua yang ada dan yang mungkin ada.
Di manakah konteks siswa menentukan kurikulum?
Di Inggris. Secara tradisional, Inggris menganut sistem pendidikan yang bersifat desentralisasi, di mana masing-masing wilayah memiliki otonomi pendidikannya sendiri (LEA / Local Education Authority). (http://www.scribd.com/doc/50197742/15/G-Perbedaan-dalam-Pendekatan-Terhadap-Pendidikan-Nilai)
Apakah unsur dasar reduksi?
Abstraksi. Abstraksi merupakan suatu proses. Sesuatu yang dilihat tidak mengacu kepada obyek atau peristiwa khusus. Abstraksi menyajikan secara simbolis atau secara konseptual serta secara imajinatif sesuatu yang tidak dialami secara langsung atau konkret.
Apa filsafatnya hidup adalah pilihan?
Reduksionisme.
Mengapa para filsuf tidak bisa lari dari filsafat?
Karena filsuf adalah filsafat. Para filsuf selalu berpikir dan berpikir kritis, selalu bertanya. Terkadang mereka menerjemahkan dan juga diterjemahkan. Diterjemahkan oleh kita sebagai mahasiswa yang mempelajari filsafat, di mana filsafat itu juga bersumber dari pikiran para filsuf.
Sebagian besar dosaku adalah karena apa?
Karena determinisku. Dalam hidup kita pasti membuat pilihan tentang apa yang akan kita jalani. Ketika memilih kemudian melakukan sesuatu ada kemungkinan di mana itu akan mengganggu orang lain. Jadi kita harus selalu memohon ampun kepada Allah atas sikap ini.
Apakah anti filsafat itu?
Filsafat. Filsafat meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Dan anti filsafat adalah termasuk di dalamnya, jadi anti filsafat adalah filsafat.
Demikianlah yang dapat saya uraikan dari tes jawab singkat perkuliahan filsafat.
Sumber referensi:
http://kamus-filsafat.blogspot.com/2009/03/abstraksi-inggris-abitraction.html
http://powermathematics.blogspot.com
Rabu, 25 Mei 2011
KUIS FILSAFAT
Diposting oleh Nevi N di 07.57 0 komentar
Rabu, 11 Mei 2011
TAK BISA LEPAS DARI FILSAFAT
TIGA PILAR FILSAFAT
Yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Menurut referensi yang saya baca:
Ontologi dapat diartikan sebagai ilmu tentang keberadaan. Pertanyaan yang menyangkut wilayah ini antara lain: apakah objek yang ditelaah ilmu? Bagaimanakah hakekat dari objek itu? Bagaimanakah hubungan antara objek tadi dengan daya tangkap manusia yang membuahkan pengetahuan dan ilmu?
Epistemologi dapat diartikan sebagai ilmu tentang bagaimana seorang ilmuwan akan membangun ilmunya. Pertanyaan yang menyangkut wilayah ini antara lain: bagaimanakah proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan menjadi ilmu? Bagaimanakah prosedurnya? Untuk hal ini, kita akan mengarah ke cabang fisafat metodologi.
Aksiologi dapat diartikan sebagai ilmu tentang nilai-nilai etika seorang ilmuwan. Pertanyaan yang menyangkut wilayah ini antara lain: untuk apa pengetahuan ilmu itu digunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaannya dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan metode ilmiah yang digunakan dengan norma-norma moral dan profesional? Dengan begitu, kita akan mengarah ke cabang fisafat Etika.
Dapat disimpulkan, ontologi adalah tentang yang adanya, aksiologi adalah sifat dari yang adanya, sedangkan epistemologi adalah yang menghubungkan antara ontologi dan aksiologi.
1) Ontologi – Ontologi
Hakekat dari hakekat. Sedangkan hakekat saja kita hanya berusaha untuk mengetahuinya, maka yang mengetahui secara absolut apa itu hakekat dan hakekat dari hakekat hanyalah Allah swt Yang Maha Mengetahui.
2) Ontologi – Epistemologi
Hakekat dari epistemologi. Epistemologi adalah metode. Jadi untuk mengetahui apa itu hakekat dari metode.
3) Ontologi – Aksiologi
Hakekat dari baik-buruknya sesuatu. Misalkan saya menganggap kacar-kucur dalam adat pernikahan Jawa itu sesuatu yang aneh, maka setelah tahu maknanya mungkin pemikiran saya bisa menerima. Karena filsafat itu relatif, maka baik-buruk sesuatu dapat dipandang berbeda oleh subjek dan kondisi yang berbeda pula.
4) Epistemologi – Ontologi
Merupakan kebalikan dari hakekat dari epistimologi yakni metode dalam menggali hakekat. Di mana metode dalam menggali hakekat adalah filsafat.
Misalnya dalam Islam adalah tarekat.
5) Epistemologi – Epistemologi
Bagaimana kebenaran dari metode. Untuk mengetahuinya, sebelumnya kita harus tahu tentang hakekat epistemologi.
6) Epistemologi – Aksiologi
Metode untuk mengungkap baik-buruk.
7) Aksiologi – Ontologi
Baik-buruknya hakekat. Aksiologinya hakekat. Contoh: bagaimana etika kita ketika di masjid.
8) Aksiologi – Epistemologi
Etik dan estetika dari suatu metode. Bagaimana cara kita untuk mengungkapkan sesuatu. Misalkan ketika minta uang kepada orang tua, ya jangan dengan membentak; atau ketika berbicara dengan guru, ya dengan tutur sopan.
9) Aksiologi – Aksiologi
Baik-buruknya tentang baik-buruk. Menyampaikan baik-buruk dengan cara yang baik, etika yang beradab. Misalnya yang dijumpai di adat Jawa. Di dekorasi pernikahan diberi tebu, dalam hal ini makna tebu adalah anteping kalbu, artinya agar kedua mempelai benar-benar mantap menjalankan pernikahan dan untuk kehidupan berumah tangga seterusnya ke depan.
DI MANA BATAS PIKIRANKU?
Batas pikiran adalah hati. Jadi, setinggi-tingginya kita berpikir, akhirnya harus kita kembalikan pada hati, agar ilmu/pemikiran tidak menjadi salah jalur/arah. Orang yang mengembangkan pikiran tanpa percaya dalam hati adanya Tuhan maka ia adalah kaum prejudice. Maka sebaik-baik kita adalah terus mencari ilmu tanpa melupakan komunikasi dengan Tuhan, yaitu berdoa dan selalu memohon ridha serta ampunan-Nya.
FILSAFAT KRITIS
Dunia dapat dirangkum dalam satu kata ‘kritis’. Filsafat kritis dikemukakan oleh Immanuel Kant. Immanuel Kant dikenal sebagai tokoh Filsafat Kritis lawan dari Filsafat Dogmatis. Namun demikian Filsafat Kritis Kant adalah merupakan periode kedua pemikiran Kant. Periode pertama, Pra-Kritis dan periode kedua adalah zaman Kritis. Pada zaman Pra-Kritis, Kant menganut pendirian rasionalitas yang dilancarkan oleh Wolff dan kawan-kawannya. Pemikiran David Hume (1711-1776) sangat berpengaruh pada Kant, hingga lambat laun Kant meninggalkan Rasionalismenya. Bahkan Kant menyebut Hume-lah yang membangunkan dia dari tidur dogmatisnya. Setelah itu, Kant mulai mengubah pandangan filsafatnya menjadi pandangan yang bersifat kritis. Hume sendiri adalah seorang penganut Empirisme yang berpendapat bahwa sumber pengetahuan manusia bukan rasio, melainkan pengalaman (empiri), tepatnya pengalaman yang berasal dari pengenalan inderawi.
Filsafat Kant merupakan sintesa dari rasionalism dan empirisisme. Kritisisme adalah filsafat adalah filsafat yang memulai perjalanannya dengan terlebih dahulu menyelidiki kemampuan dan batas-batas rasio. Para filsuf terdahulu yang tergolong dalam dogmatisme sebelumnya meyakini kemampuan rasio tanpa penyelidikan terlbih dulu. Kant menyelidiki unsur-unsur mana dalam pemikiran manusia yang berasal dari rasio (sudah ada terlebih dulu tanpa dibantu oleh pengalaman) dan mana yang murni berasal dari empiri. Bagi Kant, titik berat dari Kritisismenya ada pada rasio yang murni..
PERAN DAN PENGARUH BAHASA DALAM FILSAFAT
Bahasa tidak lain tidak bukan adalah rumahku. Bahasa tidak lain tidak bukan adalah pikiranku. Maka bahasa adalah diriku sendiri.
Bahasa berperan untuk menjelaskan dalam filsafat. Sepanjang jaman orang berfilsafat menggunakan bahasa. Dalam mempelajari filsafat sekarang ini, khususnya filsafat pendidikan matematika, diberikan bahasa yang variatif, ada bahasa yang dekat dengan kehidupan sehari-hari dan ada bahasa yang ‘tinggi’, sehingga dapat meningkatkan pemahaman filsafat itu sendiri.
MITOS
Belum tentu mitos itu tidak baik. Misalkan ketika kita mengajarkan sesuatu pada anak kecil yaitu mitos, tapi ketika itu bukan mitos bagi orang dewasa.
Nah, apakah mitos itu??
Mitos dalam arti primitif: “awas, pohon itu ada yang menunggui!!”. Contoh lain ketika terjadi bencana, orang biasanya mengait-ngaitkan segala yang bisa dikaitkan. Dari referensi yang saya baca, mitos adalah serangkaian keyakinan yang dianggap sakral, berbasis pada prasangka, seringkali berada di luar batas rasionalitas manusia yang belum tentu benar, dan sulit dibuktikan kebenarannya. Mitos berada di antara ada dan tiada.
Ironisnya, ketika semua pihak menafsirkan via mitos atas segala yang terjadi, termasuk bencana. Maka masyarakat awam akan kian terlelap dalam alam mitos yang di luar jangkauan rasionalitas manusia. Hal ini berbahaya ketika merambah pada hal yang seharusnya diselesaikan secara empiris, seperti kasus kecelakaan, bencana, dan lainnya karena human error. Tafsir mitologis ini biasanya membuat masyarakat menjadi pesimis akan masa depan, takut bepergian walau dalam kondisi cuaca bagus hingga menimbulkan kepanikan nasional, baik dalam benak masing-masing individu maupun masyarakat umum. Inilah sisi negatif penafsiran mitologis.
Efek negatif dan positif dari mitos adalah dua sisi mata uang yang sama. Adakalanya ia diperlukan sebagai upaya untuk memberikan harapan positif pada orang-orang yang putus asa. Terkadang ia diperlukan sebagai upaya pihak-pihak tertentu untuk menghegemoni dan membohongi masyarakat agar terlelap dalam ketidaktahuan, sebagaimana yang disinyalir paradigma kritis atas metanarasi. Namun ia harus ditolak ketika mengintervensi ranah empiris yang membutuhkan penyelesaian secara empiris pula.
Sumber referensi:
http://ariendahard.files.wordpress.com/2011/03/makalah-fiksafat-ii-arofah.docx
http://id.shvoong.com/humanities/philosophy/2109377-tokoh-filsafat-immanuel-kant-1724/
http://re-searchengines.com/edi6-07.html
Diposting oleh Nevi N di 06.13 0 komentar
Label: filsafat kritis, mitos
Rabu, 04 Mei 2011
BELAJAR MEMAKNAI FILSAFAT
Kuliah Pak Marsigit
Kamis, 28 April 2011 jam 15.30-17.10 di Ruang 104
Berpikir filsafat memiliki tingkatan dimensinya, relatif terhadap ruang dan waktu. Setelah mempelajari filsafat, aplikasi yang bisa kita terapkan meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Dalam rangka menggali lebih jauh filsafat kita, kita harus selalu bertanya dan bertanya. Memunculkan pertanyaan. Ketika menjawab sesuatu terkadang kita perlu menggunakan referensi. Hal itu bisa saja mengurangi kebebasan berpikir, sedikit banyak bisa membatasi ruang pikir kita, tapi tidak ada salahnya. Karena filsafat itu adalah menerjemahkan dan diterjemahkan, tentang teori dan praktek, maka referensi itu dapat kita analogikan dengan teori. Untuk menuju praktek ‘kan kita perlu mengetahui teori/caranya. Sedangkan pemikiran kita sendiri yang dikembangkan lebih luas dari teori itu.
Untuk mengimplementasikan landasan filsafat murni dalam matematika, yang kita kenal ada 3 pilar filsafat, yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Dengan berpikir intensif dan ekstensif maka bisa diketahui kualitas secara bertingkat-tingkat (tingkat kedalaman kualitas).
Setiap fenomena sifatnya tidak selalu tetap, dan juga tidak selalu berubah. Artinya, mungkin ada satu atau beberapa fenomena yang tetap, tetapi di sisi lain ada fenomena yang berubah. Contoh fenomena yang berubah misalkan fenomena di dalam pikiran kita. Apa yang kita pikirkan berbeda-beda setiap waktu. Itulah filsafatnya Heraclitos, bahwa setiap sesuatu itu berubah.
Hilbert adalah bapak matematika. Beliau memiliki pengaruh yang hebat dalam ilmu matematika. Karena telah berhasil membangun sistem matematika formal yang modern, yaitu berupa struktur-struktur geometri, aljabar, dan sebagainya. Di mana struktur-struktur tersebut yang dipergunakan di Perguruan Tinggi sekarang.
Obyek formal dan obyek material dalam matematika. Obyek formal berarti wadah, atau metode. Sedangkan obyek material adalah isinya. Tetapi wadah juga bisa sebagai isi. Contohnya: air mineral di dalam botol. Botol diletakkan di dalam ruangan. Maka botol adalah isi dari ruangan dan sekaligus sebagai wadah dari air mineral, begitu seterusnya.
Obyek formal dalam matematika yaitu research, sedangkan obyek materialnya adalah obyek matematika.
Lalu, timbul pertanyaan. Yaitu, mana yang lebih dulu antara ‘ada’ atau ‘yang mungkin ada’? Menurut saya, itu relatif. Tergantung subyeknya dan kondisinya (ruang dan waktu). Misalkan saya ambil contoh, ketika si A memegang pensil dan buku. Kemudian dia bertanya pada si B, “apakah yang akan aku tulis/gambar?” jawaban B bisa beragam. Padahal ketika si A menanyakannya, ia sudah memikirkan sesuatu (misal: panci). Nah, berarti ketika itu, panci bagi A adalah ada, sedangkan bagi B yang mungkin ada. Maka sebenar-benar diri kita adalah tidak mengetahui apa-apa, karena tidak semua yang ada kita tahu. Sedangkan masih ada yang mungkin ada. Jadi hanya Allah swt yang Maha Mengetahui segalanya.
Apakah kemungkinan apa yang kita pikirkan akan menjadi kenyataan? Saya pribadi mempunyai jawaban, bisa iya bisa tidak. Karena saya tahu, bahwa diriku adalah apa yang aku pikirkan. Jadi otomatis yang aku pikirkan adalah suatu fakta/realita. Berpikir terang, kemudian diekstensikan sehingga kita mendapatkan pencerahan/penerangan yang luas, antara lain terang dalam hati, terang dalam material, terang dalam pikir, dan sebagainya. Terang dalam hati yaitu ketika diri kita merasa tidak ada jarak antara aku dengan Sang Pencipta.
Kemungkinan apa yang kita pikirkan akan menjadi kenyataan itu kaitannya dengan intuisi (ada logika, justifikasi, dll).
Maka apa yang kita pikirkan akan dapat menjadi kenyataan apabila kita berusaha keras dan senantiasa berdoa, memohon ridho-Nya. Dan semoga Allah mengabulkan apa yang kita harapkan. Amin.
Membahas mengenai elegi yang ditulis oleh Bapak Marsigit dalam blog:
http://powermathematics.blogspot.com
Elegi sintesis dan antitesis tentang orang paling seksi ternyata mengundang perhatian yang lebih. Membuat penasaran. Menurut Pak Marsigit orang yang paling seksi adalah orang yang paling menarik perhatian, paling berpengaruh di jagat raya ini. Ketika itu yang ada di pikiran beliau adalah Barack Obama. Elegi lain yang juga sangat menarik adalah tentang tema hantu di kelas suatu sekolah RSBI di Yogyakarta. Menurut beliau hal ini kurang bagus. Karena tulisan, kata-kata, dan tindakan adalah merupakan doa. Sedangkan hantu adalah identik dengan hal negatif. Maka tulisan ‘hantu’ seperti musibah, jadi perlu diruwat. Atau dalam filsafat, hal ini perlu dijelaskan apa latar belakang dan tujuannya para siswa memilih tema hantu di kelasnya tersebut.
Commensurable adalah mengukur dengan ukuran yang sama. Jadi, istilah ‘incommensurability’ dapat diartikan sebagai perbedaan ukuran, ketidakseimbangan, atau ketidakrelevanan. Misalkan dalam matematika: skala bilangan bulat. Sisi-sisi siku-siku dari suatu segitiga siku-siku dinyatakan dalam bilangan bulat, maka sisi miringnya tidak bisa dinyatakan dengan bilangan bulat, karena sisi miring itu berbeda dengan sisi siku-siku. Konsep incommensurability ini pertama kali diperkenalkan oleh Pythagoras.
Contoh lain dalam kehidupan sehari-hari: misalkan orang tua wajib mencari nafkah untuk anak-anaknya, maka kewajiban itu tidak bisa kita terapkan pada bayi. Seperti itu. Kemudian, misalnya siswa SMA mempelajari bab trigonometri di sekolah, sedangkan itu tidak bisa diberikan ketika anak masih pada jenjang TK, bahkan SD. Karena tidak relevan. Dan banyak lagi contoh lainnya.
Ujian Nasional (UN)
Sejak dari pertama diberlakukan sampai sekarang belum lepas dari kontroversi. Ada pihak yang mendukung terhadap pelaksanaan UN, tapi juga tidak sedikit pihak yang menyayangkan atas diberlakukannya UN dan menghendaki UN sebaiknya ditiadakan. Contohnya, surat terbuka untuk presiden. Menurut pendapat saya, UN memang menciptakan budaya yang tidak baik yaitu ketidakjujuran, meliputi sebagian besar kalangan pendidikan. Karena untuk mencapai target lulus 100 % semuanya bisa melakukan apapun. Tanpa kejujuran dalam pelaksanaan UN sebenarnya kita malah menghambur-hamburkan uang Negara saja.
Untuk mengatasinya mungkin salah satu cara adalah dengan menerapkan pendidikan karakter di sekolah-sekolah. Jadi siswa tidak hanya cerdas secara kognitif, namun juga afektifnya.
Diposting oleh Nevi N di 07.37 0 komentar
Label: incommensurability, makna
