THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES

Rabu, 04 Mei 2011

BELAJAR MEMAKNAI FILSAFAT

Kuliah Pak Marsigit
Kamis, 28 April 2011 jam 15.30-17.10 di Ruang 104

Berpikir filsafat memiliki tingkatan dimensinya, relatif terhadap ruang dan waktu. Setelah mempelajari filsafat, aplikasi yang bisa kita terapkan meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Dalam rangka menggali lebih jauh filsafat kita, kita harus selalu bertanya dan bertanya. Memunculkan pertanyaan. Ketika menjawab sesuatu terkadang kita perlu menggunakan referensi. Hal itu bisa saja mengurangi kebebasan berpikir, sedikit banyak bisa membatasi ruang pikir kita, tapi tidak ada salahnya. Karena filsafat itu adalah menerjemahkan dan diterjemahkan, tentang teori dan praktek, maka referensi itu dapat kita analogikan dengan teori. Untuk menuju praktek ‘kan kita perlu mengetahui teori/caranya. Sedangkan pemikiran kita sendiri yang dikembangkan lebih luas dari teori itu.
Untuk mengimplementasikan landasan filsafat murni dalam matematika, yang kita kenal ada 3 pilar filsafat, yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Dengan berpikir intensif dan ekstensif maka bisa diketahui kualitas secara bertingkat-tingkat (tingkat kedalaman kualitas).
Setiap fenomena sifatnya tidak selalu tetap, dan juga tidak selalu berubah. Artinya, mungkin ada satu atau beberapa fenomena yang tetap, tetapi di sisi lain ada fenomena yang berubah. Contoh fenomena yang berubah misalkan fenomena di dalam pikiran kita. Apa yang kita pikirkan berbeda-beda setiap waktu. Itulah filsafatnya Heraclitos, bahwa setiap sesuatu itu berubah.
Hilbert adalah bapak matematika. Beliau memiliki pengaruh yang hebat dalam ilmu matematika. Karena telah berhasil membangun sistem matematika formal yang modern, yaitu berupa struktur-struktur geometri, aljabar, dan sebagainya. Di mana struktur-struktur tersebut yang dipergunakan di Perguruan Tinggi sekarang.
Obyek formal dan obyek material dalam matematika. Obyek formal berarti wadah, atau metode. Sedangkan obyek material adalah isinya. Tetapi wadah juga bisa sebagai isi. Contohnya: air mineral di dalam botol. Botol diletakkan di dalam ruangan. Maka botol adalah isi dari ruangan dan sekaligus sebagai wadah dari air mineral, begitu seterusnya.
Obyek formal dalam matematika yaitu research, sedangkan obyek materialnya adalah obyek matematika.

Lalu, timbul pertanyaan. Yaitu, mana yang lebih dulu antara ‘ada’ atau ‘yang mungkin ada’? Menurut saya, itu relatif. Tergantung subyeknya dan kondisinya (ruang dan waktu). Misalkan saya ambil contoh, ketika si A memegang pensil dan buku. Kemudian dia bertanya pada si B, “apakah yang akan aku tulis/gambar?” jawaban B bisa beragam. Padahal ketika si A menanyakannya, ia sudah memikirkan sesuatu (misal: panci). Nah, berarti ketika itu, panci bagi A adalah ada, sedangkan bagi B yang mungkin ada. Maka sebenar-benar diri kita adalah tidak mengetahui apa-apa, karena tidak semua yang ada kita tahu. Sedangkan masih ada yang mungkin ada. Jadi hanya Allah swt yang Maha Mengetahui segalanya.

Apakah kemungkinan apa yang kita pikirkan akan menjadi kenyataan? Saya pribadi mempunyai jawaban, bisa iya bisa tidak. Karena saya tahu, bahwa diriku adalah apa yang aku pikirkan. Jadi otomatis yang aku pikirkan adalah suatu fakta/realita. Berpikir terang, kemudian diekstensikan sehingga kita mendapatkan pencerahan/penerangan yang luas, antara lain terang dalam hati, terang dalam material, terang dalam pikir, dan sebagainya. Terang dalam hati yaitu ketika diri kita merasa tidak ada jarak antara aku dengan Sang Pencipta.
Kemungkinan apa yang kita pikirkan akan menjadi kenyataan itu kaitannya dengan intuisi (ada logika, justifikasi, dll).
Maka apa yang kita pikirkan akan dapat menjadi kenyataan apabila kita berusaha keras dan senantiasa berdoa, memohon ridho-Nya. Dan semoga Allah mengabulkan apa yang kita harapkan. Amin.

Membahas mengenai elegi yang ditulis oleh Bapak Marsigit dalam blog:
http://powermathematics.blogspot.com
Elegi sintesis dan antitesis tentang orang paling seksi ternyata mengundang perhatian yang lebih. Membuat penasaran. Menurut Pak Marsigit orang yang paling seksi adalah orang yang paling menarik perhatian, paling berpengaruh di jagat raya ini. Ketika itu yang ada di pikiran beliau adalah Barack Obama. Elegi lain yang juga sangat menarik adalah tentang tema hantu di kelas suatu sekolah RSBI di Yogyakarta. Menurut beliau hal ini kurang bagus. Karena tulisan, kata-kata, dan tindakan adalah merupakan doa. Sedangkan hantu adalah identik dengan hal negatif. Maka tulisan ‘hantu’ seperti musibah, jadi perlu diruwat. Atau dalam filsafat, hal ini perlu dijelaskan apa latar belakang dan tujuannya para siswa memilih tema hantu di kelasnya tersebut.
Commensurable adalah mengukur dengan ukuran yang sama. Jadi, istilah ‘incommensurability’ dapat diartikan sebagai perbedaan ukuran, ketidakseimbangan, atau ketidakrelevanan. Misalkan dalam matematika: skala bilangan bulat. Sisi-sisi siku-siku dari suatu segitiga siku-siku dinyatakan dalam bilangan bulat, maka sisi miringnya tidak bisa dinyatakan dengan bilangan bulat, karena sisi miring itu berbeda dengan sisi siku-siku. Konsep incommensurability ini pertama kali diperkenalkan oleh Pythagoras.
Contoh lain dalam kehidupan sehari-hari: misalkan orang tua wajib mencari nafkah untuk anak-anaknya, maka kewajiban itu tidak bisa kita terapkan pada bayi. Seperti itu. Kemudian, misalnya siswa SMA mempelajari bab trigonometri di sekolah, sedangkan itu tidak bisa diberikan ketika anak masih pada jenjang TK, bahkan SD. Karena tidak relevan. Dan banyak lagi contoh lainnya.

Ujian Nasional (UN)
Sejak dari pertama diberlakukan sampai sekarang belum lepas dari kontroversi. Ada pihak yang mendukung terhadap pelaksanaan UN, tapi juga tidak sedikit pihak yang menyayangkan atas diberlakukannya UN dan menghendaki UN sebaiknya ditiadakan. Contohnya, surat terbuka untuk presiden. Menurut pendapat saya, UN memang menciptakan budaya yang tidak baik yaitu ketidakjujuran, meliputi sebagian besar kalangan pendidikan. Karena untuk mencapai target lulus 100 % semuanya bisa melakukan apapun. Tanpa kejujuran dalam pelaksanaan UN sebenarnya kita malah menghambur-hamburkan uang Negara saja.
Untuk mengatasinya mungkin salah satu cara adalah dengan menerapkan pendidikan karakter di sekolah-sekolah. Jadi siswa tidak hanya cerdas secara kognitif, namun juga afektifnya.

0 komentar: