THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES

Rabu, 11 Mei 2011

TAK BISA LEPAS DARI FILSAFAT

TIGA PILAR FILSAFAT
Yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Menurut referensi yang saya baca:
Ontologi dapat diartikan sebagai ilmu tentang keberadaan. Pertanyaan yang menyangkut wilayah ini antara lain: apakah objek yang ditelaah ilmu? Bagaimanakah hakekat dari objek itu? Bagaimanakah hubungan antara objek tadi dengan daya tangkap manusia yang membuahkan pengetahuan dan ilmu?
Epistemologi dapat diartikan sebagai ilmu tentang bagaimana seorang ilmuwan akan membangun ilmunya. Pertanyaan yang menyangkut wilayah ini antara lain: bagaimanakah proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan menjadi ilmu? Bagaimanakah prosedurnya? Untuk hal ini, kita akan mengarah ke cabang fisafat metodologi.
Aksiologi dapat diartikan sebagai ilmu tentang nilai-nilai etika seorang ilmuwan. Pertanyaan yang menyangkut wilayah ini antara lain: untuk apa pengetahuan ilmu itu digunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaannya dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan metode ilmiah yang digunakan dengan norma-norma moral dan profesional? Dengan begitu, kita akan mengarah ke cabang fisafat Etika.
Dapat disimpulkan, ontologi adalah tentang yang adanya, aksiologi adalah sifat dari yang adanya, sedangkan epistemologi adalah yang menghubungkan antara ontologi dan aksiologi.
1) Ontologi – Ontologi
Hakekat dari hakekat. Sedangkan hakekat saja kita hanya berusaha untuk mengetahuinya, maka yang mengetahui secara absolut apa itu hakekat dan hakekat dari hakekat hanyalah Allah swt Yang Maha Mengetahui.
2) Ontologi – Epistemologi
Hakekat dari epistemologi. Epistemologi adalah metode. Jadi untuk mengetahui apa itu hakekat dari metode.
3) Ontologi – Aksiologi
Hakekat dari baik-buruknya sesuatu. Misalkan saya menganggap kacar-kucur dalam adat pernikahan Jawa itu sesuatu yang aneh, maka setelah tahu maknanya mungkin pemikiran saya bisa menerima. Karena filsafat itu relatif, maka baik-buruk sesuatu dapat dipandang berbeda oleh subjek dan kondisi yang berbeda pula.
4) Epistemologi – Ontologi
Merupakan kebalikan dari hakekat dari epistimologi yakni metode dalam menggali hakekat. Di mana metode dalam menggali hakekat adalah filsafat.
Misalnya dalam Islam adalah tarekat.
5) Epistemologi – Epistemologi
Bagaimana kebenaran dari metode. Untuk mengetahuinya, sebelumnya kita harus tahu tentang hakekat epistemologi.
6) Epistemologi – Aksiologi
Metode untuk mengungkap baik-buruk.
7) Aksiologi – Ontologi
Baik-buruknya hakekat. Aksiologinya hakekat. Contoh: bagaimana etika kita ketika di masjid.
8) Aksiologi – Epistemologi
Etik dan estetika dari suatu metode. Bagaimana cara kita untuk mengungkapkan sesuatu. Misalkan ketika minta uang kepada orang tua, ya jangan dengan membentak; atau ketika berbicara dengan guru, ya dengan tutur sopan.
9) Aksiologi – Aksiologi
Baik-buruknya tentang baik-buruk. Menyampaikan baik-buruk dengan cara yang baik, etika yang beradab. Misalnya yang dijumpai di adat Jawa. Di dekorasi pernikahan diberi tebu, dalam hal ini makna tebu adalah anteping kalbu, artinya agar kedua mempelai benar-benar mantap menjalankan pernikahan dan untuk kehidupan berumah tangga seterusnya ke depan.

DI MANA BATAS PIKIRANKU?
Batas pikiran adalah hati. Jadi, setinggi-tingginya kita berpikir, akhirnya harus kita kembalikan pada hati, agar ilmu/pemikiran tidak menjadi salah jalur/arah. Orang yang mengembangkan pikiran tanpa percaya dalam hati adanya Tuhan maka ia adalah kaum prejudice. Maka sebaik-baik kita adalah terus mencari ilmu tanpa melupakan komunikasi dengan Tuhan, yaitu berdoa dan selalu memohon ridha serta ampunan-Nya.

FILSAFAT KRITIS
Dunia dapat dirangkum dalam satu kata ‘kritis’. Filsafat kritis dikemukakan oleh Immanuel Kant. Immanuel Kant dikenal sebagai tokoh Filsafat Kritis lawan dari Filsafat Dogmatis. Namun demikian Filsafat Kritis Kant adalah merupakan periode kedua pemikiran Kant. Periode pertama, Pra-Kritis dan periode kedua adalah zaman Kritis. Pada zaman Pra-Kritis, Kant menganut pendirian rasionalitas yang dilancarkan oleh Wolff dan kawan-kawannya. Pemikiran David Hume (1711-1776) sangat berpengaruh pada Kant, hingga lambat laun Kant meninggalkan Rasionalismenya. Bahkan Kant menyebut Hume-lah yang membangunkan dia dari tidur dogmatisnya. Setelah itu, Kant mulai mengubah pandangan filsafatnya menjadi pandangan yang bersifat kritis. Hume sendiri adalah seorang penganut Empirisme yang berpendapat bahwa sumber pengetahuan manusia bukan rasio, melainkan pengalaman (empiri), tepatnya pengalaman yang berasal dari pengenalan inderawi.
Filsafat Kant merupakan sintesa dari rasionalism dan empirisisme. Kritisisme adalah filsafat adalah filsafat yang memulai perjalanannya dengan terlebih dahulu menyelidiki kemampuan dan batas-batas rasio. Para filsuf terdahulu yang tergolong dalam dogmatisme sebelumnya meyakini kemampuan rasio tanpa penyelidikan terlbih dulu. Kant menyelidiki unsur-unsur mana dalam pemikiran manusia yang berasal dari rasio (sudah ada terlebih dulu tanpa dibantu oleh pengalaman) dan mana yang murni berasal dari empiri. Bagi Kant, titik berat dari Kritisismenya ada pada rasio yang murni..

PERAN DAN PENGARUH BAHASA DALAM FILSAFAT
Bahasa tidak lain tidak bukan adalah rumahku. Bahasa tidak lain tidak bukan adalah pikiranku. Maka bahasa adalah diriku sendiri.
Bahasa berperan untuk menjelaskan dalam filsafat. Sepanjang jaman orang berfilsafat menggunakan bahasa. Dalam mempelajari filsafat sekarang ini, khususnya filsafat pendidikan matematika, diberikan bahasa yang variatif, ada bahasa yang dekat dengan kehidupan sehari-hari dan ada bahasa yang ‘tinggi’, sehingga dapat meningkatkan pemahaman filsafat itu sendiri.

MITOS
Belum tentu mitos itu tidak baik. Misalkan ketika kita mengajarkan sesuatu pada anak kecil yaitu mitos, tapi ketika itu bukan mitos bagi orang dewasa.
Nah, apakah mitos itu??
Mitos dalam arti primitif: “awas, pohon itu ada yang menunggui!!”. Contoh lain ketika terjadi bencana, orang biasanya mengait-ngaitkan segala yang bisa dikaitkan. Dari referensi yang saya baca, mitos adalah serangkaian keyakinan yang dianggap sakral, berbasis pada prasangka, seringkali berada di luar batas rasionalitas manusia yang belum tentu benar, dan sulit dibuktikan kebenarannya. Mitos berada di antara ada dan tiada.
Ironisnya, ketika semua pihak menafsirkan via mitos atas segala yang terjadi, termasuk bencana. Maka masyarakat awam akan kian terlelap dalam alam mitos yang di luar jangkauan rasionalitas manusia. Hal ini berbahaya ketika merambah pada hal yang seharusnya diselesaikan secara empiris, seperti kasus kecelakaan, bencana, dan lainnya karena human error. Tafsir mitologis ini biasanya membuat masyarakat menjadi pesimis akan masa depan, takut bepergian walau dalam kondisi cuaca bagus hingga menimbulkan kepanikan nasional, baik dalam benak masing-masing individu maupun masyarakat umum. Inilah sisi negatif penafsiran mitologis.
Efek negatif dan positif dari mitos adalah dua sisi mata uang yang sama. Adakalanya ia diperlukan sebagai upaya untuk memberikan harapan positif pada orang-orang yang putus asa. Terkadang ia diperlukan sebagai upaya pihak-pihak tertentu untuk menghegemoni dan membohongi masyarakat agar terlelap dalam ketidaktahuan, sebagaimana yang disinyalir paradigma kritis atas metanarasi. Namun ia harus ditolak ketika mengintervensi ranah empiris yang membutuhkan penyelesaian secara empiris pula.

Sumber referensi:
http://ariendahard.files.wordpress.com/2011/03/makalah-fiksafat-ii-arofah.docx
http://id.shvoong.com/humanities/philosophy/2109377-tokoh-filsafat-immanuel-kant-1724/
http://re-searchengines.com/edi6-07.html

0 komentar: